Wasiat Sang Pertapa


Di tepian sungai Kuto itu, terdapat sebuah pemukiman.

Penduduknya tak banyak, hanya beberapa rumah, kebun belantara, dan tambak-tambak yang belum lama ini mereka buat.

Suatu hari desa itu kedatangan seorang yang tak dikenal. Bajunya tertutup, dan tampak di wajahnya seperti orang yang arif bijaksana. Sebut saja Sang Pertapa.

Di tempat itu Sang Pertapa mengenalkan masyarakatnya tentang nilai-nilai budi pekerti dalam hidup. Dia juga mengenalkan kepada mereka sosok Sang Pencipta, yang berkuasa atas jagat raya seisinya.

"Guru, kita butuh tempat untuk mendengarkan nasehat-nasehat Guru dan tempat untuk memuja Sang Pencipta", ujar salah seorang penduduk desa itu.

Kemudian mereka mulai membangun sebuah Tempat Pemujaan.

Tempat Pemujaan itu selalu ramai pengunjung. Mereka datang dari berbagai penjuru untuk memuja Sang Pencipta dan mendengarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan dari Sang Pertapa. Dan untuk menjamu para tamu-Nya, disediakan sebuah lahan khusus yang hasilnya digunakan untuk kemakmuran Tempat Pemujaan.

Waktu terus berjalan. Sang Pertapa menikah, punya anak, dan semakin menua.

"Semua yang kumiliki sudah kuberikan kepada kalian. Hanya tinggal Tempat Pemujaan ini, dan lahan untuk menghidupinya. Ketitipkan semuanya kepada kalian. Orang-orang membutuhkan kita", Sang Pertapa memberikan wasiat kepada anak-anaknya sebelum akhirnya ia meninggal.

Waktu telah berjalan, tak terasa sudah sekian lama Sang Pertapa pergi meninggalkan kita.

Penduduk desa pun mulai enggan datang ke Tempat Pemujaan. 

Dan yang lebih memprihatinkan lagi, anak-anak Sang Pertapa pun juga lupa akan wasiat dari ayahnya.

Mereka tak menghiraukan Tempat Pemujaan, dengan dalih, ada orang lain yang lebih pantas. Tapi anehnya, lahan untuk menghidupi Tempat Pemujaan itu menjadi rebutan di antara mereka.

Akhirnya Sang Pencipta pun marah dan tempat itu dibuatnya porak poranda, dan akhirnya tenggelam dalam amarah Sungai Kuto.

BERSAMBUNG..

Komentar